Selasa, 19 Desember 2017

PEMIMPIN DALAM RELIKUI 3TA (HARTA, TAHTA, WANITA)





Relikui 3TA (harta, tahta dan wanita) melekat pada diri seorang pemimpin seperti dua mata pisau yang tajam. Bermanfaat jika berlaku sebagaimana idealnya dan membawa kehancuran jika tidak pada tempatnya.

Mari kita berkaca pada Khalid bin Walid. Siapa yang tidak mengenal sosok pemimpin yang berani dan tangguh seperti khalid bin walid sebagai panglima perang yang tak pernah kalah dalam memimpin pasukan bahkan sebelum cahaya Islam sampai kepadanya.

Kecintaan Khalid terhadap wanita -  Jika Umar bin Khathab mengisi waktu istirahat dari urusan negara dengan menghabiskan malam lewat tangisan taubat, maka Khalid bin Walid memilih mengisi waktu istirahat dari peperangan dengan duduk berdua bersama istri yang dicintainya. Seberapapun cinta Khalid kepada istrinya, apakah hal ini membuat Khalid menjadi terlena? Tentu saja tidak.  Sebagaimana Khalid pernah berkata “ aku lebih mencintai malam yang dingin lagi penuh kesulitan bersama pasukan Muhajirin daripada malam aku disandingkan dengan wanita yang kucintai....”. luar biasa sekali, tak ada yang dapat menandingi keinginan hati Khalid bin Walid untuk berjihad di jalan Allah. Lalu bagaimana dengan pemimpin hari ini yang saling berlomba-lomba memuaskan keinginan istri yang tidak murah?

Tahta bagi al-qiyadah al-‘aamah (pemimpin umum pasukan) -  selama Khalid bin Walid menjadi panglima perang, pasukannya tidak pernah mengalami kekalahan, namun hal itu tidak menjadikan jabatan akan selamanya dipundak. Pada masa ke khalifahan Umar bin Khathab, Khalid di berhentikan sebagai panglima perang yang terus dipimpin olehnya selama masa kekhalifahan Abu bakr. Ketahuilah bahwa Khalid bin Walid tidak hanya satu kali diberhentikan dari jabatan yang dipegangnya, Khalid pun pernah diberhentikan sebagai seorang gubernur.Apakah kemudian dengan pemecatan itu akan menjadikan semangat Khalid luntur dan padam? Atau malah memaki Umar? Ternyata tidak, sebagai muslim sejati yang diharapkan oleh Khalid adalah ridho Allah dan mati dijalannya, tak ada yang berubah pada dirinya, seperti yang pernah dikatakannya “saya berjihad bukan karena umar tetapi karena tuhannya umar (Allah)” . Mari kita lihat apakah ada pemimpin hari ini yang begitu tunduk dan rela ketika diberhentikan sebagaimana Khalid kepada amirul mukminin Umar, yang kita lihat malah para pejabat yang sibuk mengamankan kekuasaannya, bukan?
 

Harta bagi panglima besar yang dermawan – Khalid bin Walid dikenal sebagai seorang yang suka memberikan hadiah kepada prajuritnya, pernah satu ketika Khalid memberikan hadiah kepada seorang penyair yang memujinya sejumlah 10 ribu dirham, yang jika dihitung setara dengan 2 miliar  pada saat ini, bayangkan betapa kayanya Khalid semasa hidupnya, namun silahkan dilihat kembali berapa harta yang Khalid tinggalkan ketika meninggal dunia? Tidak ada harta apapun yang beliau miliki kecuali ranjang tempat tidur, budak laki-laki, dan senjatanya. Kemana harta yang diperolehnya selama menjabat? Ketahuilah sekali lagi Khalid adalah muslim sejati, semua harta ia miliki sudah diinfaqkan dijalan Allah, tak ada yang tersisa untuknya, karena yang ia tahu dunia hanyalah tempat persinggahan. Berbeda sekali dengan pemimpin hari ini bukan? Berapa banyak pemimpin yang semakin kaya raya ketika sudah tidak memimpin lagi? Berapa banyak pemimpin yang mengisi kantong-kantong mereka dengan uang rakyat? 

Begitulah relikui 3TA yang akan membawa kesurga jika orientasinya itu Allah, dan bisa pula berlaku sebaliknya, betapa kita merindukan sosok seperti Khalid bin Walid. Akankah ada Khalid bin Walid selanjutnya? Wallahua’lam.



Minggu, 20 September 2015

Mahasiswa???

catatan 13 juni 2015



Sepi sekali kos an ku malam ini, ditemani suara gemuruh di laptopku yang sudah tua, ditunggui tugasku yang menumpuk, namun rasanya aku tak berniat untuk mengerjakan soal-soal itu....hanya terpikir akan sesuatu tentang training manajemen respon kebijakan publik yang aku hadiri tadi siang, rasanya sangat menggemaskan jika tidak ku ceritakan, terpikir juga saat aku sangat anti dengan yang namanya aksi, sangat tidak suka dengan yang namanya politik, menutup mata dari hal-hal yang kurasa tidak ada untung dan ruginya untuk diriku. 
Namun dibangku kuliah ini aku mengerti, mahasiswa bukanlah seperti yang ada disinetron-sinetron ftv yang dipenuhi dengan kisah asmara yang aku sendiripun tidak tahu apakah ada manfaatnya, mahasiswa bukanlah sebuah jalan yang bertujuan hanya untuk mencari pekerjaan yang layak lalu menghasilkan uang yang banyak, mahasiswa bukanlah yang hanya terpaku diakademik lalu mendapatkan ijazah dan ipk yang tinggi, mahasiswa bukanlah hanya menghabiskan uang orang tua saja, atau yang hanya nongkrong, jalan-jalan ke mall , tetapi aku belajar mahasiswa adalah tentang kepedulian, tentang kepekaan sosial, dan tentang perjuangan dimana kita dituntut untuk bergerak untuk bangsa, bukan hanya untuk diri sendiri semata, mahasiswa yang katanya agen perubahan haruslah bukan hanya sekedar “katanya”,
mahasiswa adalah orang-orang yang kritis, pintar akademik maupun organisasinya, mahasiswa adalah pemuda harapan bangsa, generasi penerus bangsa, apakah generasi tersebut hanya terus diam? Seperti yang dikatakan salah satu kakak angkatanku yang merupakan orang yang luar biasa.... “hal itu dikatakan hidup jika ia bergerak, dan dikatakan mati apabila diam, jadi jika seorang mahasiswa itu hanya diam bukankah itu sama dengan mati?” ya mungkin dia bernafas dan bisa dikatakan hidup sebagai individu, tetapi dia sebagai orang yang mati dalam memperjuangkan bangsanya....kita tidak hanya sebagai penerima dari semua kebijakan-kebijakan yang disodorkan kepada kita, tetapi juga harus berpikir kritis apakah itu baik atau tidak untuk bangsa ini....
mahasiswa bukan hanya bisanya memacetkan jalan, tapi cobalah untuk pahami apa yang mahasiswa itu perjuangkan, untuk siapa mahasiswa aktivis itu berjuang, dan permasalahan apa yang sekarang terjadi dinegara kita, cobalah beranjak dari kursi nyamanmu, sadarilah bahwa Indonesia hampir jatuh dan perlu kita perbaiki, sadarilah negara ini masih belum dalam keadaan makmur sejahtera seperti yang kita citakan, negeri ini dikatakan makmur bukan saat kau merasa cukup, tetapi saat seluruh rakyat negara ini merasa cukup, sudah kau melihat kita semua hidup makmur?
Jangan hanya melihat keatas, sadarilah realita yang ada, kesenjangan ini terasa makin jauh, tidakkah kalian memikirkannya dalam posisi nyamanmu itu, aku ingin bergerak, tetapi jika hanya aku apakah itu akan cukup mengubah negeri ini?tidak kawan. Negeri ini akan berubah jika itu ada “kita” bukan “aku”, “kamu”, atau “mereka”. Kita harus mengubah presepsi-presepsi mereka yang mengatakan Indonesia ini “baik-baik saja”. Kita harus melawan penguasa yang semena-mena, ya, kita memang belum bisa mengubah itu langsung dengan tangan kita, tetapi kita bisa memberikan jalan untuk perubahan-perubahan tersebut.
Jika dipikirkan, apakah penguasa-penguasa tersebut pernah menjadi mahasiswa sesungguhnya???????if so i dont hope to be one of them, well just want to be different that i’ll make a little change.