Relikui 3TA (harta, tahta dan
wanita) melekat pada diri seorang pemimpin seperti dua mata pisau yang tajam.
Bermanfaat jika berlaku sebagaimana idealnya dan membawa kehancuran jika tidak
pada tempatnya.
Mari kita berkaca pada Khalid bin
Walid. Siapa yang tidak mengenal sosok pemimpin yang berani dan tangguh seperti
khalid bin walid sebagai panglima perang yang tak pernah kalah dalam memimpin
pasukan bahkan sebelum cahaya Islam sampai kepadanya.
Kecintaan Khalid terhadap wanita
- Jika Umar bin Khathab mengisi waktu
istirahat dari urusan negara dengan menghabiskan malam lewat tangisan taubat,
maka Khalid bin Walid memilih mengisi waktu istirahat dari peperangan dengan
duduk berdua bersama istri yang dicintainya. Seberapapun cinta Khalid kepada
istrinya, apakah hal ini membuat Khalid menjadi terlena? Tentu saja tidak. Sebagaimana Khalid pernah berkata “ aku lebih mencintai malam yang dingin lagi
penuh kesulitan bersama pasukan Muhajirin daripada malam aku disandingkan
dengan wanita yang kucintai....”. luar biasa sekali, tak ada yang dapat
menandingi keinginan hati Khalid bin Walid untuk berjihad di jalan Allah. Lalu
bagaimana dengan pemimpin hari ini yang saling berlomba-lomba memuaskan
keinginan istri yang tidak murah?
Tahta bagi al-qiyadah al-‘aamah (pemimpin umum pasukan) - selama Khalid bin Walid menjadi panglima
perang, pasukannya tidak pernah mengalami kekalahan, namun hal itu tidak
menjadikan jabatan akan selamanya dipundak. Pada masa ke khalifahan Umar bin
Khathab, Khalid di berhentikan sebagai panglima perang yang terus dipimpin
olehnya selama masa kekhalifahan Abu bakr. Ketahuilah bahwa Khalid bin Walid tidak
hanya satu kali diberhentikan dari jabatan yang dipegangnya, Khalid pun pernah
diberhentikan sebagai seorang gubernur.Apakah
kemudian dengan pemecatan itu akan menjadikan semangat Khalid luntur dan padam?
Atau malah memaki Umar? Ternyata tidak, sebagai muslim sejati yang diharapkan
oleh Khalid adalah ridho Allah dan mati dijalannya, tak ada yang berubah pada
dirinya, seperti yang pernah dikatakannya “saya
berjihad bukan karena umar tetapi karena tuhannya umar (Allah)” . Mari kita
lihat apakah ada pemimpin hari ini yang begitu tunduk dan rela ketika
diberhentikan sebagaimana Khalid kepada amirul mukminin Umar, yang kita lihat
malah para pejabat yang sibuk mengamankan kekuasaannya, bukan?
Harta bagi panglima besar yang
dermawan – Khalid bin Walid dikenal sebagai seorang yang suka memberikan hadiah
kepada prajuritnya, pernah satu ketika Khalid memberikan hadiah kepada seorang
penyair yang memujinya sejumlah 10 ribu dirham, yang jika dihitung setara
dengan 2 miliar pada saat ini, bayangkan
betapa kayanya Khalid semasa hidupnya, namun silahkan dilihat kembali berapa
harta yang Khalid tinggalkan ketika meninggal dunia? Tidak ada harta apapun
yang beliau miliki kecuali ranjang tempat tidur, budak laki-laki, dan
senjatanya. Kemana harta yang diperolehnya selama menjabat? Ketahuilah sekali
lagi Khalid adalah muslim sejati, semua harta ia miliki sudah diinfaqkan
dijalan Allah, tak ada yang tersisa untuknya, karena yang ia tahu dunia
hanyalah tempat persinggahan. Berbeda sekali dengan pemimpin hari ini bukan? Berapa
banyak pemimpin yang semakin kaya raya ketika sudah tidak memimpin lagi? Berapa
banyak pemimpin yang mengisi kantong-kantong mereka dengan uang rakyat?
Begitulah relikui 3TA yang akan
membawa kesurga jika orientasinya itu Allah, dan bisa pula berlaku sebaliknya, betapa
kita merindukan sosok seperti Khalid bin Walid. Akankah ada Khalid bin Walid
selanjutnya? Wallahua’lam.
